EKSPLOR MANGROVE ENGGANO

EKSPLORASI EKOSISTEM MANGROVE
DESA KAHYAPU PULAU ENGGANO
2019

By : Kelompok Mangrove

Nama Dosen Pengampu :
Nurlaila Ervina, S.Pi, M.Si
Person Pesona Renta, S.Pi, M.Si
Dr. Yar Johan, S.Pi, M.Si
Dewi Purnama, S.Pi, M.Si

Nama Coass :
Pinsi Hiriman Syahputra
Raja Aditya
Bondan Purnomo

PENDAHULUAN

1) Latar Belakang


Secara astronomis, Pulau Enggano terletak pada 05° 23′ 21″ LS102° 24′ 40″ BT. Pulau Enggano terletak pada bagian barat wilayah Bengkulu. Pulau ini termasuk pulau terluar Indonesia yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Pulau Enggano memiliki 6 desa diataranya Desa Kahyapu, Banjarsari, Meok, Apoho, Malakoni dan Ka'ana. Pulau Enggano memiliki luas 400,6 Km². Pulau Enggano memiliki 3 ekosistem lengkap pada perairan lautnya yaitu ekosistem lamun, ekosistem terumbu karang, dan ekosistem mangrove. Pulau Enggano merupakan pulau yang memiliki kerapatan mangrove yang sangat baik. 

Kegiatan Eksplorasi merupakan suatu kegiatan mencari informasi lebih dalam mengenai suatu sumber daya. dalam hal ini ekosistem mangrove menjadi tujuan dari eksplorasi Pulau Enggano. hal ini dikarenakan ekosistem ini masih berada dalam kategori sangat baik. sehingga data informasi berupa ekositem mangrove ini akan sangat dibutuhkan untuk mengetahui jenis mangrove yang terdapat pada Pulau Enggano. Lokasi sasaran eksplorasi ekosistem mangrove pada penelitian kali ini adalah Desa Kahyapu Pulau Enggano. 

2) Tujuan Penelitian
adapun tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mendapatkan informasi mengenai komposisi jenis dan kerapatan mangrove di Desa Kahyapu Pulau Enggano

TINJAUAN PUSTAKA

Hutan mangrove merupakan tipe hutan yang khas dan tumbuh disepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut dan banyak dijumpai diwilayah pesisir yang terlindung dari gempuran ombak dan daerah yang landai di daerah tropis dan subtropis (FAO, 2007). Hutan mangrove terbentuk karena adanya perlindungan dari ombak, masukan air tawar dari sungai, sedimentasi dan aliran air pasang surut (Goldman dan Home, 1983 dalam Setyawan et al., 2002).

Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis dan subtropis yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerha pasang surut pantai berlumpur (Bengen, 2002). Hutan mangrove meliputi pohon pohon dan semak yang tergolong kedalam 8 family, dan terdiri dari 12 genera tumbuhan berbunga yaitu Avicenia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lummitzera, Laguncularia, Aegiceras, Snadea, dan Conocarpus (Bengen 2002).

Irwanto (2006) menguraikan secara rinci bahwa dari sekian banyak jenis mangrove di Indonesia, jenis mangrove yang banyak ditemukan adalah jenis api - api (Avicenia sp), bakau (Rhizophora sp), tancang (Bruguiera sp.), dan bogem (Sonneratia sp) merupakan tumbuhan mangrove utama yang banyka dijumpai. Jenis mangrove tersebut merupakan jenis kelompok mangrove yang berfungsi menangkap, menahan endapan, dan menstabilkan tanah habitatnya.

Menurut Gunarto (2004), bahwa mangrove biasanya berada di daerah muara sungai atau estuaria sehingga merupakan daerah tujuan akhir dari partikel - partikel organik ataupun endapan lumpur yang terbawa dari daerah hulu akibat adanya erosi. dengan demikian daerah mangrove merupakan daerah yang subur baik daratannya maupun perairannya karena selalu terjadi transportasi nutrien akibat adanya pasang surut.

kerusakan lingkungan yang terjadi baik dari ekosistem laut maupun ekosistem lainnya memang banyak dipicu oleh berbagai faktor. Namun secara umum, dua pemicu yang cukup dominan adalah kebutuhan ekonomi dan kegagalan kebijakan (Fauzi, 2005).

METODOLOGI

1) Waktu dan Tempat



Adapun pelaksanaan praktikum eksplorasi ekosistem mangrove ini dilaksanakan pada tanggal 07 April 2019 pada pukul 08.00 - 10.00 WIB yang bertempat di Desa Kahyapu Pulau Enggano. 

2) Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
-) Refraktometer (alat ukur salinitas)
-) Tali rafia (Pembuatan transek)
-)  Meteran (Alat ukut diameter)
-) Atk (Mencatat data)
-) GPS (pengambilan titik koordinat)
-) pH meter (alat ukur salinitas)
-) Buku identifikasi mangrove
-) Thermometer (Alat ukur suhu)

Bahan yang digunakan adalah 
-) Ekosistem mangrove

3) Prosedure Kerja

Tahap Pembuatan transek 
-) Membuat transek dengan ukuran 1 x 1; 5 x 5; dan 10 x 10 dengan talir rafia

Tahap Pengambilan data
-) Mengambil data parameter berupa suhu, salinitas, pH sebanyak 3 kali ulangan
-) Mengambil data titik koordinat dan waktu pengambilan data
-) Mengambil data jenis mangrove , diameter, dan tinggi mangrove.

Tahap Analisa Data
-) Indeks Nilai Penting (INP)

Rumus diatas digunakan untuk mencari nilai INP pohon dan tiang

Rumus diatas digunakan untuk mencari nilai INP semai
Keterangan 
INP = Indeks Nilai Penting
KR  = Kerapatan Jenis
FR  = Frekuensi Jenis
Dr   = Dominansi Jenis

-) Indeks Keanekaragaman (H') (Magurran, 1998)
Keterangan :
ni  = Jumlah jenis ke i
N  = Jumlah seluruh Jenis

Nilai ukuran
H' < 2        = Rendah
2 < H' < 3  = Sedang
H' > 3        = Tinggi

-) Indeks Kemerataan (E)(Magurran, 1998)
Keterangan 
H'  = Indeks Keanekaragaman
S   = Jumlah Seluruh Data jenis ke i

Nilai Ukuran 
E < 0,3          = Rendah
0,3 < E < 0,6 = Sedang
E > 0,6          = Tinggi

-) Indeks Dominansi (C) (Misra, 1980)
Keterangan 
ni  = Jumlah jenis ke i
N  = Jumlah seluruh Jenis

Nilai Ketentuan
C mendekati 1 = dominansi dikuasai 1 jenis species
C mendekati 0 = terdapat beberapa jenis species

-) Indeks Kesamaan Komunitas (IS) (Mueller Dombois dan Elllenberg, 1974)
Keterangan
W  = Jumlah nilai penting yang lebih kecil atau sama dengan
a   = Total nilai penting komunitas a
b   = total nilai penting komunitas b

Nilai ketentuan
Berkisar 0 - 100 %

HASIL DAN PEMBAHASAN

1) Hasil Pengamatan

-) Pohon

-) Tiang

-) Semai

2) Pembahasan

Pada Desa Kahyapu, pengamatan dilakukan 50 meter dari garis pantai ke arah belakang. ditemukan 2 jenis mangrove yaitu Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata. Jenis mangrove ini merupakan jenis mangrove yang berada pada zonasi paling depan dekat dengan garis pantai. Sejauh 50 meter masih ditemukan keberadaan jenis ini dikarenakan hingga jarak 50 meter air laut masih mencapai pasang tertinggi sehingga tingkat salinitas mendukung pertumbuhan jenis ini. Selain itu propagul yang jatuh akan terbawa pasang di sekitar area ini. Kedua jenis mangrove ini memiliki pertumbuhan yang mendominasi dengan ukuran pohon dapat mencapai 15 - 20 meter.

 -) Indeks Keanekaragaman

indeks keanekaragaman merupakan indeks yang menunjukkan kekayaan atau kelimpahan jenis species pada suatu area. Semakin banyak jenis species pada suatu area, maka nilai keanekaragaman akan semakin besar dengan nilai lebih besar dari 3. dari hasil pengamatan nilai indeks keanekaragaman Rhizophora mucronata  dan Rhizophora apiculata dengan masing masing nilai yaitu H' Pohon 0,17 dan 0,83 ; H' Tiang 0,09 dan 0,91 ; H' Semai 0,33 dan 0,67. Hal ini menunjukkan bahwa nilai H' suatu lokasi tersebut memiliki nilai yang rendah dengan keanekaragaman species yang rendah.


-) Indeks Kemerataan
indeks kemerataan menunjukkan seberapa besar nilai kemerataan individu per jenis. Dari hasil pengamatan didapatkan nilai kemerataan Rhizophora mucronata  dan Rhizophora apiculata dengan masing masing nilai yaitu E Pohon 0,07 dan 0,34; E Tiang 0,03 dan 0,29 ; E Semai 0,19 dan 0,37. Hal ini menunjukkan bahwa nilai E suatu lokasi tersebut memiliki nilai kemerataan yang rendah.

-) Indeks Dominansi
Indeks dominansi menunjukkan seberapa besar suatu jenis mendominasi area tersebut. Artinya jika keanekaragaman tinggi maka nilai dominansi akan rendah. Dari hasil pengamatan didapatkan nilai dominansi Rhizophora mucronata  dan Rhizophora apiculata dengan masing masing nilai yaitu  Pohon 0,03 dan 0,69;  Tiang 0,01 dan 0,83 ;  Semai 0,11 dan 0,44. Hal ini menunjukkan bahwa nilai E suatu lokasi tersebut memiliki nilai kemerataan yang rendah.

-) Indeks Kesamaan Komunitas
Indeks ini menunjukkan tingkat kesamaan komunitas yang dibandingkan pada setiap pertumbuhan dimana rentang nilai berkisar antara 0 - 100%. Semakin tinggi IS maka komunitas semakin memiliki kesamaan. Dari hasil pengamatan, nilai IS Pohon yaitu 50,06%; nilai IS Tiang 42,20 %, dan IS Semai 4,9%. Hal ini menunjukkan bahwa kesamaan komunitas sedikit memiliki nilai kesamaan.

KESIMPULAN

Berdsarkan hasil pengamatan, hutan mangrove yang terdapat di Desa Kahyapu Pulau Enggano yaitu jenis Rhizophora mucronata  dan Rhizophora apiculata dengan nilai keanekaragaman tergolong rendah, kemerataan tergolong rendah, dominansi rendah, dengan indeks kemerataan sedang pada jenis pohon dan tiang. 

DAFTAR PUSTAKA

Bengen, D. G. 2002. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian
               Sumber Daya Pesisir dan Lautan. IPB. 58 Hal.
Fauzi, A. 2005. Kebijakan Perikanan dan Kelautan Isu, Sintesis dan Gagasan. PT Gramedia
               Pustaka Utama
Gunarto. 2004. Konservasi Mangrove Sebagai Pendukung Sumber Hayati Perikanan 
               Pantai. Jurnal Litbang Pertanian. Vol 23 (1).
Irwanto. 2006. Keanekaragaman Fauna Pada Habitat Mangrove.www.irwantoshut.com. 
              Diakses tanggal 10 Mei 2019
Magurran, A.E. 1998. Ecological Diversity and Its Measurement. Australia (AU) : Croom 
              Helm. hlm 35 - 37
Misra, K.C. 1980. Manual of Plant Ecology (Second Edition). New Delhi (IN) : Oxford and 
              IBH Publishing Co.
Mueller- Dombois, Ellenberg H.1974. Aims and Methods of Vegetation Ecology.
             Canada (CA) : J Wiley
Setyawan, A.D, Ari Susilowati, Wiryanto. 2002. Habitat Reliks Vegetasi Mangrove di
              Pantai Selatan Jawa. Biodiversity ITAS Vol 3 (2).

LAMPIRAN






Komentar